Latar Belakang: Thoracolumbar burst fracture merupakan cedera tulang belakang yang dapat menimbulkan nyeri, defisit neurologis, kelemahan otot, dan keterbatasan fungsional. Laporan kasus ini bertujuan mendeskripsikan penatalaksanaan fisioterapi berbasis kontrol nyeri, latihan terapeutik progresif, latihan transfer, dan gait training pada pasien pascaoperasi thoracolumbar burst fracture. Subjek adalah laki-laki berusia 46 tahun dengan riwayat jatuh dari ketinggian sekitar 6 meter, mengalami burst fracture TH12 disertai defisit neurologis, dan memulai fisioterapi sekitar satu bulan pascaoperasi. Program diberikan selama 8 minggu dengan 16 sesi terjadwal; sesi ke-7 sampai ke-10 sempat terinterupsi karena infeksi lambung dan kemudian dijadwalkan ulang. Evaluasi menggunakan Numeric Pain Rating Scale (NPRS), Manual Muscle Testing (MMT), goniometri, Oswestry Disability Index (ODI), catatan fungsi, dan pemantauan kejadian tidak diinginkan. Pada evaluasi akhir, NPRS istirahat menurun dari 4/10 menjadi 2/10 dan NPRS aktivitas dari 7/10 menjadi 4/10. MMT fleksor panggul dan ekstensor lutut meningkat dari 2/5 menjadi 4/5, dorsifleksor pergelangan kaki dari 1/5 menjadi 3/5, fleksi panggul aktif dari 70° menjadi 100°, dan ODI dari 62% menjadi 34%. Pasien juga berkembang dari transfer bed-chair dengan bantuan moderat dan belum ambulasi mandiri menjadi transfer dengan supervisi serta ambulasi menggunakan walker dengan bantuan minimal. Tidak ditemukan adverse event yang berkaitan langsung dengan intervensi fisioterapi. Temuan pada kasus ini menunjukkan perbaikan klinis individual setelah rehabilitasi fisioterapi terstruktur, namun tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan efektivitas kausal.
Copyrights © 2026