Penelitian ini mengevaluasi efektivitas penerapan anggaran pribadi yang membedakan secara tegas antara pos kebutuhan dan keinginan pada mahasiswa kos di Kota Pontianak. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus instrumental, data dikumpulkan dari 30 mahasiswa aktif melalui kuesioner daring terstruktur yang mencakup 18 pertanyaan terbuka dan tertutup. Analisis tematik Braun dan Clarke (2006) dengan bantuan NVivo 14 mengungkapkan bahwa seluruh partisipan secara konseptual mampu membedakan kebutuhan (makan 100%, biaya kos 100%, kuota internet 90%) dari keinginan (nongkrong di kafe 93,3%, belanja impulsif 70%). Namun, kesenjangan implementasi (knowing-doing gap) menjadi tantangan utama: 76,7% partisipan tidak memiliki catatan anggaran tertulis. Mid-month crisis terjadi pada 70% partisipan, dipicu oleh front-loading spending dan akumulasi pengeluaran sosial. Teknologi finansial memperparah perilaku boros pada 77,8% penggunanya akibat efek pain-free payment. Faktor protektif meliputi pengiriman uang bertahap, penggunaan aplikasi pencatat keuangan, dan pengalaman negatif masa lalu. Penelitian ini merekomendasikan integrasi pelatihan digital envelope budgeting ke dalam program orientasi mahasiswa baru.
Copyrights © 2026