Permasalahan sampah organik rumah tangga di Indonesia masih sangat kritis. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2025 menunjukkan bahwa hanya 25% sampah nasional yang terkelola. Kondisi ini jauh lebih parah di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku, di mana tingkat pengelolaan sampah hanya 0,01%. Rendahnya literasi lingkungan masyarakat dan minimnya kajian tentang sosialisasi teknologi ecoenzyme di tingkat rumah tangga menjadi kesenjangan yang mendasar. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berbasis masalah melalui empat tahap persiapan dan identifikasi masalah, sosialisasi dan demonstrasi, pendampingan mandiri serta evaluasi dan rencana keberlanjutan. Sasaran kegiatan adalah 32 ibu rumah tangga dan dilaksanakan pada 21 April 2026. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan (skor pretest 42,5 menjadi 85,2 pada posttest). Sebanyak 94% peserta mampu menyebutkan rasio ecoenzyme (1:3:10) dengan tepat dan 86% dapat menjelaskan tiga tanda keberhasilan fermentasi. Sikap peserta juga berubah, dimana persentase yang menganggap limbah organik tidak berguna turun dari 78% menjadi 17%. Rencana keberlanjutan meliputi pembentukan kader ecoenzyme per RT yang dilatih dan bertujuan untuk mendampingi masyarakat secara mandiri.
Copyrights © 2026