Pembangunan berkelanjutan pada wilayah rawan bencana menghadapi tantangan besar akibat interaksi antara dinamika alam dan kerentanan sosial manusia. Gempa bumi berkekuatan 7,4 Mw yang melanda Kota Palu tahun 2018 memicu fenomena likuifaksi yang menyebabkan perubahan bentang alam, kerusakan infrastruktur, hilangnya aset produktif, serta gangguan terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak likuifaksi terhadap keberlanjutan pembangunan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, melalui perspektif lingkungan, sosial, ekonomi, dan tata kelola wilayah. Penelitian menggunakan metode studi pustaka sistematis dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui sintesis berbagai literatur ilmiah terkait fenomena likuifaksi, mitigasi bencana, dan pembangunan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa likuifaksi menyebabkan transformasi spasial yang signifikan melalui perubahan fungsi lahan, degradasi lingkungan, serta terbentuknya kawasan tidak layak huni. Selain itu, bencana ini menimbulkan dampak sosial berupa kehilangan tempat tinggal, perubahan struktur komunitas, serta tekanan psikososial masyarakat, sementara pada aspek ekonomi menyebabkan terganggunya mata pencaharian dan meningkatnya kerentanan ekonomi rumah tangga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dampak likuifaksi tidak hanya bersifat geologis, tetapi menjadi persoalan pembangunan multidimensi yang membutuhkan integrasi pengurangan risiko bencana (Disaster Risk Reduction) dalam perencanaan pembangunan wilayah untuk menciptakan Kota Palu yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026