Penelitian mengenai metode takror di pondok pesantren umumnya berfokus pada implementasi program yang disusun secara formal oleh lembaga sebagai strategi meningkatkan kualitas hafalan santri. Namun demikian, belum banyak penelitian yang mengkaji praktik budaya takror yang tumbuh secara mandiri atas inisiatif santri tanpa adanya regulasi resmi dari pesantren. Penelitian ini bertujuan menganalisis model pelaksanaan budaya takror, faktor-faktor yang mendorong partisipasi santri, serta implikasinya terhadap penguatan hafalan Nadhom Al-Imrithi di Pondok Pesantren Al Amnan Banyuwangi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap lima belas santri penghafal Al-Imrithi serta seorang pengurus bidang kurikulum yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi untuk menjamin keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya takror berkembang melalui kelompok belajar kecil yang dibentuk secara swadaya menggunakan metode tashih-muhafadhah. Motivasi spiritual, rasa tanggung jawab antarsantri, dan budaya belajar kolektif menjadi faktor utama yang mempertahankan keberlangsungan kegiatan tersebut. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa budaya takror berbasis inisiatif santri mampu memperkuat kualitas hafalan sekaligus membangun budaya belajar kolaboratif, meskipun belum didukung oleh kebijakan kelembagaan yang terstruktur. Oleh karena itu, pesantren disarankan memfasilitasi budaya takror melalui kebijakan yang tetap mempertahankan karakter kemandirian santri, sedangkan penelitian selanjutnya dapat mengembangkan kajian pada pesantren dengan karakteristik yang berbeda.
Copyrights © 2026