Bayi prematur merupakan bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu dan masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas neonatal. Kejadian bayi prematur dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya usia ibu, paritas, dan anemia selama kehamilan. Identifikasi faktor-faktor tersebut sangat penting sebagai upaya pencegahan persalinan prematur dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maternal. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik cross-sectional Penelitian dilaksanakan di RSUP H. Adam Malik Tahun 2026 menggunakan data rekam medis. Populasi penelitian adalah seluruh bayi baru lahir sebanyak 386 bayi, dengan sampel sebanyak 57 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen meliputi usia ibu, paritas, dan kadar hemoglobin (Hb), sedangkan variabel dependen adalah kejadian bayi prematur. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia ibu memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian bayi prematur (p- value = 0,007), dan paritas juga memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian bayi prematur (p- value = 0,018). Sementara itu, anemia tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian bayi prematur (p- value = 0,171). Kesimpulan terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu dan paritas dengan kejadian bayi prematur di RSUP H. Adam Malik Tahun 2026. Sebaliknya, anemia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian bayi prematur. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam melakukan deteksi dini faktor risiko serta meningkatkan upaya pencegahan persalinan prematur melalui pelayanan antenatal yang optimal.
Copyrights © 2026