Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan sosial dan manifestasi solidaritas mekanik dalam tradisi malabang (menjemur gabah di jalan umum) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dilatarbelakangi oleh munculnya tumpang tindih antara fungsi infrastruktur transportasi publik dan kebutuhan ruang ekonomi-sosial masyarakat di tengah arus modernisasi pertanian. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam kepada petani dan pengguna jalan, serta dokumentasi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa tradisi ini bukan sekadar efisiensi aktivitas ekonomi pascapanen, melainkan sebuah institusi sosial yang merawat kohesi warga melalui pembentukan kontrak sosial tidak tertulis, toleransi spasial asimetris, dan empati komunal yang spontan. Kesimpulannya, praktik malabang merefleksikan secara nyata kuatnya kesadaran kolektif dan solidaritas mekanik Emile Durkheim, yang terbukti secara fungsional mampu mencegah perselisihan dan mengelola tata ruang nirkonflik tanpa memerlukan intervensi hukum positif aparatur negara. Limitasi penelitian ini terletak pada fokus telaah sosiologis yang terbatas pada beberapa desa spesifik dan belum mengeksplorasi benturan struktural dengan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk mengkaji relasi ekonomi-politik antara regulasi tata ruang daerah terhadap persistensi tradisi kearifan lokal ini, serta melakukan studi komparatif di wilayah agraris lainnya.
Copyrights © 2026