Perkembangan teknologi informasi mendorong adopsi masif aplikasi mobile sebagai media pembelajaran bahasa asing mandiri. Aplikasi Mazii, salah satu platform kamus bahasa Jepang terpopuler di Indonesia dengan lebih dari 1 juta unduhan di Google Play Store, belum tentu menjamin kepuasan seluruh penggunanya meski unduhannya tinggi. Penelitian ini menganalisis kepuasan pengguna aktif Mazii menggunakan kerangka End-User Computing Satisfaction (EUCS) melalui kuesioner Likert lima poin. Dari 74 respons awal, disaring berdasarkan kriteria inklusi (WNI, durasi pemakaian ≥3 bulan, frekuensi minimal "beberapa kali seminggu") menjadi 48 responden, dan setelah data cleaning diperoleh 45 responden valid yang dianalisis menggunakan PLS-SEM berbasis Python. Kelima dimensi EUCS secara simultan berpengaruh terhadap kepuasan pengguna (R² = 0,778), namun secara parsial hanya Content (β = 0,586; p = 0,000) dan Accuracy (β = 0,252; p = 0,050) yang signifikan; Format, Ease of Use, dan Timeliness tidak signifikan. Uji HTMT menunjukkan 7 dari 15 pasangan konstruk gagal validitas diskriminan (HTMT > 0,90), mengindikasikan tumpang tindih konseptual antar dimensi EUCS sebagai keterbatasan metodologis, meski ukuran sampel (n = 45) telah memenuhi ambang minimum statistical power analysis (n ≥ 45). Temuan ini diharapkan menjadi acuan empiris bagi pengembang Mazii dalam memprioritaskan kelengkapan konten dan keakuratan informasi sebagai dua faktor paling konsisten memengaruhi kepuasan pengguna
Copyrights © 2026