Penelitian ini mengkaji representasi perempuan Muslim di Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) sebagai bentuk gerakan perempuan Muslim pasca-perlawanan PKI di Madiun, Jawa Timur, pada tahun 1948. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana PSM membentuk identitas keagamaan dan kepemimpinan perempuan dalam konteks sosio-politik pasca-konflik. Dengan menggunakan pendekatan sejarah kualitatif, penelitian ini memanfaatkan dokumen arsip, sejarah lisan, dan literatur terkait untuk melacak peran pesantren dalam memberdayakan perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa PSM berfungsi sebagai platform pendidikan dan sosio-politik, yang memungkinkan perempuan untuk terlibat dalam studi keagamaan, organisasi masyarakat, dan rekonstruksi moral. Representasi ini menantang norma-norma gender yang berlaku sekaligus memperkuat nilai-nilai Islam di era politik yang penuh gejolak. Studi ini berkontribusi pada historiografi gerakan Islam Indonesia dengan menyoroti peran aktif perempuan Muslim yang sering terabaikan dalam aktivisme berbasis pesantren. Studi ini juga menawarkan perspektif yang lebih mendalam mengenai persimpangan antara pendidikan keagamaan, gender, dan politik di pesantren.
Copyrights © 2026