Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena interaksi parasosial antara anggota fandom POLCA dengan maskot digital Polcasan di media sosial X, di mana penggemar tidak hanya menjadikan Polcasan sebagai maskot biasa, tetapi juga sebagai figur yang memiliki identitas dan posisi sosial dalam komunitas fandom. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana anggota fandom POLCA mengonstruksi dan memaknai interaksi parasosial mereka dengan Polcasan di media sosial X. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Data dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur terhadap empat anggota aktif fandom POLCA dan observasi daring di X, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, & SaldaƱa (2014) serta Teori Interaksi Parasosial Schramm & Hartmann (2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Polcasan dikonstruksi sebagai figur sosial melalui personifikasi dan antropomorfisme, dengan penggemar memberikan identitas kekerabatan seperti anak, cucu, dan adik. Pengalaman interaksi parasosial dimaknai melalui empat aspek: persepsi mengenal, komunikasi semu, kedekatan emosional, dan kesadaran hubungan satu arah yang tidak dialami secara berurutan dan seragam oleh setiap informan. Keterlibatan penggemar dalam praktik fandom terwujud melalui interaksi digital, partisipasi komunitas, perilaku protektif, dan konsumsi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Polcasan tidak hanya berfungsi sebagai maskot, tetapi juga sebagai figur sosial dan mediator dalam relasi antara penggemar, komunitas fandom, dan TayNew. Temuan ini memperkuat relevansi teori interaksi parasosial dalam menjelaskan hubungan penggemar dengan karakter non-manusia yang dipersonifikasikan secara konsisten.
Copyrights © 2026