Kesenjangan antara kepatuhan formal terhadap nilai organisasi (value compliance) dan kesadaran nilai yang benar-benar dihayati (value consciousness) menjadi persoalan mendasar dalam kepemimpinan Indonesia kontemporer. Artikel ini mengembangkan gagasan model kepemimpinan WASKITA (Welas Asih, Amanah, Sinau, Kinerja, Integritas, Tanggap, Adaptif) sebagai kerangka integratif yang memadukan kearifan budaya Jawa, spiritualitas Islam, dan teori kepemimpinan modern. Kajian konseptual ini dilandasi rancangan penelitian kualitatif dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) pada tiga sektor yang merepresentasikan ekosistem Triple Helix, yaitu pendidikan tinggi, industri BUMN, dan pelayanan publik. Diskusi menunjukkan bahwa model WASKITA berpotensi memberikan kontribusi teoretis berupa model kepemimpinan berbasis nilai yang lahir dari data empiris lintas sektor, kontribusi metodologis melalui perluasan penerapan IPA pada bidang manajemen, serta kontribusi praktis bagi pemimpin pendidikan, korporasi, dan birokrasi dalam memperkuat internalisasi nilai secara autentik. Artikel ini disusun sebagai landasan konseptual bagi penelitian lapangan yang akan menguji dan memperkaya model tersebut.
Copyrights © 2026