Kemudahan distribusi citra dokumentasi melalui kanal digital meningkatkan risiko pengunggahan ulang tanpa identitas sumber serta manipulasi yang sulit dikenali secara visual. Kondisi tersebut menyebabkan penerima sulit memastikan apakah citra masih sama dengan citra yang pertama kali diterbitkan. Penelitian ini bertujuan menerapkan kombinasi Password-Based Scrambling dan Least Significant Bit (LSB) dengan pendekatan fragile watermarking untuk membantu autentikasi citra digital. Password diproses menggunakan SHA-256 untuk menghasilkan seed bagi pseudo-random number generator (PRNG). Urutan deterministik yang dihasilkan PRNG digunakan pada Fisher-Yates Shuffle untuk mengacak piksel watermark dan menentukan lokasi penyisipan pada kanal LSB. Pengujian dilakukan menggunakan 12 citra sampul RGB dan satu watermark grayscale berukuran 320 × 320 piksel pada kondisi tanpa manipulasi serta setelah kompresi JPEG, cropping, dan resizing. Proses penyisipan menghasilkan rata-rata MSE 0,0635, PSNR 62,78 dB, dan SSIM 0,9995, yang menunjukkan perubahan visual sangat kecil. Tanpa manipulasi, watermark berhasil direkonstruksi dengan BER 0 dan NC 1. Setelah manipulasi, rata-rata BER meningkat menjadi 0,4974 dan NC menurun menjadi 0,5941 sehingga watermark tidak dapat dikenali. Pada kompresi, PSNR tetap lebih dari 40 dB meskipun ekstraksi watermark gagal. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem sensitif terhadap seluruh manipulasi yang diuji, tetapi belum dapat menentukan jenis dan lokasi manipulasi secara otomatis.
Copyrights © 2026