Ekosistem kesehatan lamun menjadi indikator utama yang mencerminkan kondisi padang lamun di suatu lokasi serta berperan dalam menentukan tingkat keanekaragaman hayati yang didukungnya (Dewi et al . 2019). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesehatan ekosistem lamun serta keberadaan biota asosiasinya di kawasan konservasi perairan Gili Balu, Nusa Tenggara Barat. Pengambilan data dilakukan pada tiga stasiun dengan metode transek kuadrat untuk menilai persentase tutupan lamun, epifit, makroalga, serta parameter kualitas perairan. Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun (IKEL) dihitung berdasarkan penutupan lamun, epifit, makroalga, kecerahan, dan kekayaan jenis. Analisis komunitas biota asosiasi menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H'), dominansi (C), dan keseragaman (E'). Hasil penelitian menunjukkan nilai IKEL pada Stasiun 1 (0,72) dan Stasiun 2 (0,716) termasuk kategori baik, sedangkan Stasiun 3 (0,623) berada pada kategori sedang. Indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada Stasiun 1 (H'=3,565) dengan komunitas stabil, sedangkan Stasiun 2 (H'=2,024) dan Stasiun 3 (H'=1,651) tergolong sedang. Hasil analisis korelasi Rank Spearman menunjukkan hubungan positif antara nilai IKEL dan indeks keanekaragaman, namun tidak signifikan secara statistik, sehingga keanekaragaman biota juga mempengaruhi faktor lain seperti substrat, kualitas perairan, dan tekanan antropogenik. Kata kunci : Biota Asosiasi, Gili Balu, Keanekaragaman, Ekosistem Kesehatan, Lamun
Copyrights © 2025