Pengembangan usaha akuakultur skala kecil masih menghadapi berbagai kendala pada aspek teknis, manajerial, kelembagaan, dan pemasaran. Model Pentaheliks yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, pemerintah dan lembaga keuangan, asosiasi, serta media, berpotensi memperkuat keberlanjutan dan daya saing sektor ini. Penelitian ini menganalisis kondisi unit usaha akuakultur milik orangtua mahasiswa serta merumuskan strategi pengembangannya berbasis model Pentaheliks. Peneliti menggunakan metode survei deskriptif terhadap 41 unit usaha, Focus Group Discussion (FGD) dengan aktor Pentaheliks, dan analisis SWOT untuk menentukan kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman, serta arah strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar unit usaha beroperasi dalam skala kecil dengan produksi dan pendapatan terbatas, tergabung dalam kelompok pembudidaya, masih menggunakan teknologi tradisional, dan memasarkan hasil melalui pengepul dan pasar tradisional. Permasalahan teknis, manajerial, kelembagaan, dan pemasaran memerlukan intervensi kolaboratif melalui pendekatan Pentaheliks. Para aktor Pentaheliks menilai bahwa unit usaha tersebut memiliki potensi pengembangan ke depan. Analisis SWOT menunjukkan bahwa kekuatan utama terletak pada pengalaman pembudidaya dan dukungan lahan, sementara kelemahan mencakup aspek manajemen dan teknologi, peluang muncul dari sinergi antaraktor dan perluasan akses pasar, sedangkan ancaman berasal dari fluktuasi harga serta keterbatasan modal. Strategi pengembangan difokuskan pada peningkatan inovasi teknologi, perbaikan manajemen usaha, penguatan kelembagaan, dan optimalisasi jejaring Pentaheliks untuk memperluas akses pasar dan modal. Dengan demikian, implementasi terintegrasi model Pentaheliks berpotensi meningkatkan kapasitas teknis, manajerial, dan pemasaran, sehingga memperkuat daya saing dan keberlanjutan regenerasi usaha akuakultur orangtua mahasiswa.
Copyrights © 2025