Penelitian ini membedah fenomena "Inkuisisi Metafisik" dalam pemutusan hubungan romantis yang didasarkan pada intervensi mimpi dan manipulasi Weton. Menggunakan metode Autoetnografi Kritis, studi ini menganalisis artefak digital untuk membongkar praktik ketidakjujuran intelektual otoritas keluarga. Temuan utama menunjukkan adanya fabrikasi data identitas hari lahir subjek untuk mengubah hasil hitungan Weton dari kategori 21 (Sri/Kemakmuran) menjadi 25 (Pati/Kematian) demi melegitimasi penolakan. Selain itu, mimpi digunakan sebagai instrumen kekerasan simbolik untuk melabeli karakter subjek tanpa pembuktian empiris. Penelitian menyimpulkan bahwa tradisi Weton telah didesakralisasi menjadi alat politik eksklusi (weaponized tradition) yang memicu dampak psikologis berupa Ambiguous Loss dan Gaslighting pada korban.
Copyrights © 2026