Indonesia memiliki salah satu kawasan hutan mangrove terluas di dunia yang memiliki potensi ekologis dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan sumber daya mangrove sebagai pewarna alami untuk produk batik bernilai ekonomi tinggi di wilayah pesisir Tanjung Rejo Percut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pengamatan lapangan, wawancara dengan masyarakat pesisir dan pengusaha batik, serta studi dokumentasi yang dilakukan oleh mahasiswa pendidikan geografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman mangrove, khususnya akar, cabang, dan kulit kayu yang mengandung senyawa tanin, dapat diolah menjadi pewarna alami ramah lingkungan untuk produksi batik. Produk batik berbasis mangrove memiliki warna alami yang unik, nilai estetika yang tinggi, dan potensi pasar yang cukup besar seiring dengan tren produk fashion ramah lingkungan yang semakin berkembang. Selain itu, pemanfaatan limbah mangrove seperti kayu tumbang dan sisa pemangkasan mendukung pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan tanpa merusak ekosistem mangrove. Penelitian ini juga menemukan bahwa batik mangrove berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan peluang usaha, serta mendukung upaya konservasi mangrove sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Namun, masih terdapat beberapa tantangan, antara lain keterbatasan variasi warna, proses produksi yang memakan waktu lama, keterbatasan keterampilan sumber daya manusia, serta keterbatasan akses pemasaran. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat setempat, dan lembaga terkait melalui pelatihan keterampilan, pengembangan pemasaran digital, inovasi motif batik pesisir, serta pengelolaan sumber daya mangrove yang berkelanjutan guna mengoptimalkan pengembangan industri batik mangrove.
Copyrights © 2026