Thrifting atau praktik membeli dan mengenakan pakaian bekas telah lama melekat pada sejarah subkultur punk sebagai bentuk perlawanan kultural yang bekerja melalui mekanisme brikolase. Menggunakan pendekatan studi literatur kualitatif-interpretatif dan bertumpu pada kerangka teori subkultur Birmingham Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) serta konsep brikolase Hebdige, artikel ini menelaah bagaimana komunitas punk Inggris pada dekade 1970-an mengubah pakaian bekas dari penanda subordinasi ekonomi menjadi instrumen ekspresi oposisional terhadap budaya dominan. Analisis dilakukan melalui pemetaan literatur, analisis tematik, dan interpretasi teoretis atas berbagai sumber tentang thrifting, brikolase, dan subkultur punk. Temuan menunjukkan bahwa perlawanan punk melalui thrifting bekerja secara simultan pada tiga tingkatan, yakni penolakan terhadap logika konsumsi kapitalis, pembongkaran hierarki selera kelas menengah, dan pernyataan terbuka atas posisi kelas yang oleh budaya dominan hendak disembunyikan. Artikel ini juga memperluas pembacaan tersebut dengan meninjau dimensi gender dalam praktik berburu barang bekas, etika DIY (do it yourself) sebagai landasan otonomi ekonomi komunitas, serta relevansi thrifting punk bagi wacana konsumsi berkelanjutan masa kini, tanpa mengabaikan kritik pasca-subkultural yang mempertanyakan koherensi ideologis semacam itu. Artikel ini menyimpulkan bahwa thrifting dalam konteks punk merupakan praktik yang secara ideologis koheren, dan bahwa komodifikasi estetika punk oleh industri mode kontemporer justru menjadi bukti atas kekuatan kultural gerakan ini yang masih bertahan hingga kini.Kata kunci: thrifting; subkultur punk; brikolase; perlawanan kultural; mode subkulturalKata kunci: thrifting; subkultur punk; brikolase; perlawanan kultural; mode subkultural
Copyrights © 2026