Proses pengeringan pascapanen merupakan salah satu tahapan penting yang menentukan mutu dan nilai ekonomi jagung pipilan. Di Kecamatan Bunga Mayang, petani masih menggunakan metode pengeringan tradisional maupun dryer, sehingga berpotensi menghasilkan perbedaan biaya produksi, harga jual, dan pendapatan usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keuntungan serta membandingkan pendapatan usahatani jagung pipilan antara metode pengeringan tradisional dan dryer pada tingkat petani di Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif terhadap 44 responden yang terdiri atas 33 petani pengguna pengeringan tradisional dan 11 petani pengguna dryer. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur, dan penyebaran kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta berbagai literatur ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan melalui perhitungan biaya produksi, penerimaan, pendapatan, dan Break Even Point (BEP), sedangkan perbandingan pendapatan dianalisis menggunakan uji independent samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dryer menghasilkan kadar air jagung sebesar 12–14%, sehingga meningkatkan kualitas produk dan harga jual dibandingkan metode tradisional. Meskipun memerlukan biaya produksi yang sedikit lebih tinggi, metode dryer mampu memberikan pendapatan yang lebih besar serta nilai BEP yang lebih menguntungkan. Hasil uji t juga menunjukkan adanya perbedaan pendapatan yang signifikan (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa metode pengeringan berpengaruh nyata terhadap keuntungan usahatani. Dengan demikian, penerapan teknologi dryer berpotensi meningkatkan efisiensi pascapanen, pendapatan petani, dan daya saing usahatani jagung pipilan di Kecamatan Bunga Mayang.
Copyrights © 2026