Longsor yang terjadi di Jalan Kuburan Cina, Sidomulyo, Samarinda Ilir, merupakan bentuk kegagalan lereng yang dipengaruhi oleh kondisi geologi, morfologi, hidrologi, serta aktivitas manusia. Penelitian ini bertujuan menghasilkan estimasi volume longsoran yang akurat melalui integrasi pengukuran lapangan langsung dengan pemodelan fotogrametri berbasis UAV. Data sebelum kejadian diperoleh dari citra Google Earth untuk merepresentasikan kondisi permukaan awal, sedangkan data pascakejadian dikumpulkan melalui pemetaan UAV dan diolah menggunakan Agisoft Metashape untuk menghasilkan ortomosaik dan Digital Elevation Model (DEM), dengan pengamatan lapangan digunakan untuk menentukan batas longsoran dan memverifikasi perubahan permukaan. Lokasi penelitian didominasi oleh lempung terlapukkan yang berasal dari Formasi Pulau Balang dan Formasi Balikpapan, dengan Strike dan dip N46°E/65°, yang memengaruhi pergerakan translasi massa longsoran, di mana lempung plastis mengalami penurunan kuat geser yang signifikan saat jenuh sehingga meningkatkan ketidakstabilan lereng. Analisis spasial menggunakan pendekatan AHP–GIS menunjukkan bahwa kemiringan lereng merupakan faktor paling berpengaruh, diikuti oleh perubahan tutupan lahan, litologi, dan intensitas curah hujan. Perhitungan manual menghasilkan estimasi volume longsoran sekitar 10.873 m³, sedangkan metode fotogrametri UAV memberikan nilai yang lebih representatif sebesar 7.979,1 m³ dengan selisih sekitar 27 persen, yang menegaskan keunggulan pemodelan UAV dalam menangkap variasi permukaan secara lebih detail. Integrasi data UAV dengan verifikasi lapangan terbukti sebagai metode yang andal untuk menghasilkan estimasi volume longsoran berpresisi tinggi sebagai dasar perencanaan mitigasi dan strategi stabilisasi lereng di masa mendatang.Kata Kunci: Longsor, fotogrametri UAV, volume longsoran, Metashape, AHP–GIS
Copyrights © 2026