Jalan di atas tanah lunak rentan mengalami penurunan dan gangguan stabilitas lereng, seperti yang terjadi pada ruas Jalan Serindang-Pelanjau STA 0+437–0+487, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, yang diduga runtuh akibat kepingan muka air drainase. Penelitian ini mengkaji faktor keamanan (SF) lereng sebelum dan sesudah perkuatan menggunakan cerucuk dan mini tumpukan, pada kondisi muka air banjir, rapid draw down, dan pasang. Perhitungan dilakukan secara manual dengan metode Bishop Siplified (bidang longsor busur lingkaran) pada tiga stasiun pengamatan (STA 0+450, 0+475, 0+500). Tanpa perkuatan, kondisi rapid draw down di STA 0+450 terbukti paling kritis (SF = 1,235), lebih rendah dibandingkan kondisi pasang (1,319) dan banjir (1,441), sehingga tergolong rawan (SF < 1,3) dan memerlukan perkuatan. Perkuatan cerucuk mengacu pada teori Mochtar (2000), sedangkan mini tumpukan menggunakan pendekatan irisan komposit Zhang dan Wang (2017). Dengan variasi jarak 0,5 m dan 1,0 m, faktor keamanan meningkat signifikan; di STA 0+475, cerucuk menghasilkan SF 1,760–1,749 dan mini tumpukan 4,374–4,081. Cerucuk juga menambah daya dukung sebesar 332,414 kN, melampaui beban kerja 105,041 kN/m, dengan penurunan yang terjadi sebesar 15,069 cm.
Copyrights © 2026