Demokrasi elektoral Indonesia mapan secara prosedural, namun kepercayaan publik terhadap lembaga perwakilannya justru merosot tajam. Survei berkala Indikator Politik Indonesia mencatat kepercayaan terhadap lembaga perwakilan masyarakat (Legislator) terus menurun, menjadikannya lembaga negara yang paling tidak dipercaya. Konsep kesenjangan representasi antara klaim elite legislatif dan pengalaman riil warga, dianalisis menggunakan penelitian kualitatif dengan Critical Discourse Analysis, (CDA) tiga dimensi Norman Fairclough terhadap sumber teks klaim representasi aktor dan protes oleh rakyat, baik penolakan maupun data pengaduan publik periode 2023–2025, dengan sektor pendidikan dan kesehatan sebagai contoh kasus. Temuan mengidentifikasi tiga mekanisme penyebab: lemahnya produksi-ulang relasi representasi pascaelektoral, asimetri otoritas dalam pembuatan klaim, dan keterbatasan kanal artikulasi kepentingan, jarak representasional untuk memetakan ruang pisah antara representasi institusional dan representasi yang dikehendaki warga, serta menegaskan bahwa akar krisis kepercayaan terletak pada rapuhnya relasi keterwakilan setelah mandat elektoral diberikan, bukan pada kekurangan prosedur.
Copyrights © 2026