Penelitian ini bertujuan menganalisis makna simbol cahaya dalam QS. An-Nūr: 35 melalui pendekatan kualitatif dengan landasan teori semiotika Charles Sanders Peirce. Pendekatan ini memetakan tiga lapisan makna simbolik (ikon, indeks, dan simbol) yang ditelaah melalui analisis tafsir klasik dan kontemporer, wawancara dengan ahli tafsir simbolik, serta observasi atas praktik keagamaan yang merefleksikan ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cahaya dimaknai secara bertingkat: dari denotasi literal, konotasi spiritual, hingga dimensi mitologis yang mengacu pada konstruksi teologis Islam. Simbol cahaya merujuk pada sifat-sifat ketuhanan (ṣifāt ilāhiyyah), petunjuk ilahi (hudā), dan nūr Muḥammadī sebagai representasi metafisik kehadiran Tuhan. Diskusi menunjukkan bahwa integrasi semiotika dan teologi memperkaya pendekatan tafsir tematik yang kontekstual dan reflektif. Pemikiran Al-Ghazālī turut memperkuat interpretasi cahaya sebagai simbol tauhid. Temuan ini tidak hanya memperluas khazanah tafsir simbolik, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan kurikulum keislaman dan strategi dakwah berbasis spiritualitas dalam konteks masyarakat multikultural.
Copyrights © 2025