Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan usaha toko kelontong dalam meningkatkan daya saing di era digital dengan studi kasus di Desa Kedungprimpen. Perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku konsumen menuju transaksi yang lebih cepat, mudah, dan praktis, sehingga menuntut usaha tradisional untuk beradaptasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap lima pemilik toko kelontong yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toko kelontong masih memiliki kekuatan utama berupa kedekatan sosial dengan pelanggan, fleksibilitas pelayanan, lokasi strategis, serta loyalitas konsumen. Namun, pelaku usaha menghadapi kendala berupa rendahnya literasi digital, keterbatasan modal, pengelolaan usaha yang masih konvensional, dan persaingan dari minimarket modern serta platform e-commerce. Strategi pengembangan yang relevan dilakukan melalui integrasi kekuatan internal dengan adaptasi digital secara bertahap, seperti pemanfaatan WhatsApp untuk pemesanan, promosi melalui media sosial, peningkatan kualitas pelayanan, pencatatan keuangan sederhana, serta layanan pesan antar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi antara keunggulan tradisional dan inovasi digital menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing toko kelontong di era digital.
Copyrights © 2026