Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan bahwa prevalensi kejadian stunting di wilayah kerja Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Singaparna mengalami penurunan, namun belum signifikan. Pada tahun 2020, prevalensi stunting tercatat sebesar 20,5%, kemudian pada tahun 2021 mengalami penurunan menjadi 18,3%. Namun, pada tahun 2022 prevalensi stunting kembali mengalami peningkatan menjadi 23,4% dan pada tahun 2023 angka tersebut tetap berada pada 23,4%. Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan dan capaian program inovasi serta mengidentifikasi kontribusinya terhadap penurunan faktor risiko stunting. Subjek inovasi meliputi remaja, ibu balita, balita, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan kader kesehatan. Tahapan kegiatan terdiri atas identifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, perumusan alternatif pemecahan masalah, serta penyusunan rencana tindak lanjut. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama satu bulan. Instrumen yang digunakan meliputi lembar skrining kesehatan, buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), media penyuluhan, lembar pemantauan kegiatan, serta dokumentasi. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain pemberian tablet penambah darah, pemeriksaan kadar hemoglobin, pemantauan kesehatan melalui posyandu remaja, pelaksanaan kelas ibu hamil, skrining ibu hamil, pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT), pelaksanaan kelas ibu balita, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita, pemantauan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, pemberian konseling, pemenuhan sarana dan prasarana posyandu, orientasi natural leader, serta penyediaan akses dan pemastian ketersediaan sanitasi dan air bersih. Inovasi ini dapat menjadi bahan pengembangan program, khususnya dalam upaya penurunan stunting di wilayah kerja Puskesmas Singaparna.
Copyrights © 2025