Studi ini menyelidiki perdebatan tentang etika dakwah Gus Miftah, seorang ulama modern yang terkenal karena pendekatan inklusifnya. Gus Miftah menarik perhatian publik dan diapresiasi oleh banyak orang, khususnya generasi muda, karena dia berdakwah di tempat-tempat yang jarang dijamah ulama, seperti klub malam dan tempat hiburan. Meskipun demikian, popularitasnya tidak lepas dari perdebatan. Salah satu peristiwa yang menarik perhatian adalah percakapan Gus Miftah dengan seorang penjual es teh, di mana guyonan yang dia lontarkan dianggap kasar dan menimbulkan kontroversi di media sosial. Reaksi beragam terhadap kejadian tersebut. Ada yang membelanya sebagai tindakan spontan yang tidak perlu diperhatikan, dan ada yang mengecamnya karena dianggap tidak mencerminkan pendapat seorang ulama. Hadis tentang adab berkomunikasi digunakan sebagai dasar analisis dalam situasi ini. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam,”. menjadi landasan moral untuk menilai ucapan seorang tokoh agama. Media sosial memainkan peran yang signifikan dalam memperluas dampak insiden ini. Komunikasi cepat menunjukkan bahwa komunikasi sederhana dapat menjadi masalah besar, terutama ketika melibatkan orang publik. Dalam kasus ini, reputasi Gus Miftah sebagai ulama dipertanyakan, bahkan mengarah pada penurunan otoritas keagamaannya. Ulama lain, seperti Gus Iqdam, dianggap lebih baik dalam menerapkan prinsip adab berkomunikasi dibandingkan dengan Gus Miftah. Hasil penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya adab komunikasi bagi tokoh agama, terutama di era digital, di mana ucapan dan tindakan mereka dapat dilihat dan diperdebatkan dengan mudah. Hadis tentang adab komunikasi juga menciptakan otoritas keagamaan baru, yang menuntut ulama untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesat agar tetap relevan dan diterima masyarakat.
Copyrights © 2025