Perkembangan teknologi finansial telah mendorong transformasi sistem pembayaran lintas batas melalui interkoneksi regional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efisiensi biaya transaksi serta keandalan operasional antara metode digital QRIS Cross-Border dengan metode penukaran valuta asing (valas) konvensional pada transaksi ritel wisatawan di wilayah ASEAN. Dengan menggunakan landasan Transaction Cost Theory, penelitian ini mendeteksi bagaimana digitalisasi dapat memitigasi inefisiensi ekonomi yang melekat pada sistem keuangan tradisional. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-komparatif melalui teknik studi kepustakaan dan dokumentasi. Data sekunder diperoleh dari dokumen regulasi Bank Indonesia, laporan otoritas moneter regional, serta literatur ilmiah terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QRIS Cross-Border memberikan efisiensi biaya yang jauh lebih optimal bagi konsumen melalui implementasi kerangka kerja Local Currency Settlement (LCS). Mekanisme ini memotong rantai konversi ganda (double conversion) dengan mengeliminasi fungsi Dolar AS sebagai mata uang perantara, sehingga menghasilkan margin nilai tukar (spread) yang lebih kompetitif dan bebas biaya administrasi tambahan bagi pengguna retail. Sebaliknya, metode konvensional di money changer dinilai kurang efisien karena dibebani spread jual-beli yang lebar dan risiko fisik. Namun demikian, dari aspek operasional, QRIS Cross-Border mengalihkan spektrum risiko pengguna ke ranah siber, seperti ancaman quishing (QR code phishing) dan ketergantungan mutlak pada infrastruktur jaringan server perbankan.
Copyrights © 2026