Penelitian ini mengkaji peran Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah terpencil Indonesia sebagai bagian dari strategi pertahanan non-militer dalam menghadapi ancaman peperangan asimetris. Peperangan asimetris dipahami sebagai bentuk ancaman non-konvensional yang memanfaatkan infiltrasi ideologi, disinformasi, perang informasi, provokasi sosial-ekonomi, dan pengaruh eksternal untuk melemahkan kedaulatan negara tanpa konfrontasi militer langsung. Melalui pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur dan analisis sosio-yuridis, penelitian ini mengintegrasikan perspektif sosiologi birokrasi, pembinaan ideologi Pancasila, dan kerangka hukum pertahanan nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ASN di wilayah 3T berperan strategis sebagai garda depan pertahanan sipil, tidak hanya menjalankan fungsi pelayanan publik, tetapi juga sebagai agen edukasi, pembina ideologi, penggerak jejaring sosial yang tangguh, dan pelaksana kontra-narasi terhadap propaganda. Penelitian ini merekomendasikan integrasi pelatihan ketahanan nasional dan literasi digital dalam pembinaan ASN di wilayah rawan, guna memperkuat daya tangkal masyarakat terhadap ancaman asimetris dan menjaga persatuan nasional berbasis nilai-nilai Pancasila.
Copyrights © 2025