Perkembangan teknologi digital menuntut perpustakaan untuk bertransformasi agar tetap relevan bagi generasi digital. Salah satu inovasi yang potensial adalah pemanfaatan Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) sebagai media pelestarian budaya. Artikel ini bertujuan mengkaji peran VR dan AR dalam memperkuat fungsi perpustakaan sebagai agen pelestarian budaya nusantara pada era digital. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dari berbagai penelitian dan laporan terkini yang membahas integrasi teknologi imersif dalam konteks pendidikan dan pelestarian budaya. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa VR mampu merekonstruksi artefak maupun ruang budaya secara interaktif, sementara AR memberikan lapisan informasi tambahan yang memperkaya pengalaman nyata. Selain itu, pustakawan berperan penting sebagai fasilitator, edukator, dan promotor dalam pengelolaan serta sosialisasi fasilitas berbasis VR/AR. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa integrasi VR dan AR tidak hanya memperkaya akses terhadap warisan budaya, tetapi juga menjaga relevansi perpustakaan di era digital. Kontribusi penelitian ini adalah memberikan perspektif baru mengenai transformasi perpustakaan berbasis teknologi imersif sebagai strategi pelestarian budaya sekaligus inovasi dalam ilmu perpustakaan.
Copyrights © 2026