Penumpukan antrean pada jam sibuk merupakan salah satu permasalahan operasional utama pada UMKM Pempek Minah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bottleneck pada sistem pelayanan, membangun dan memvalidasi model simulasi, serta menentukan konfigurasi tenaga kerja yang mampu meminimalkan total biaya operasional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-numerik dengan Discrete Event Simulation (DES) menggunakan software Arena. Data primer dikumpulkan melalui observasi langsung pada jam sibuk 11.30–12.30 WIB, yang mencakup data kedatangan pelanggan, waktu pelayanan, kapasitas server, dan biaya tenaga kerja pada kondisi weekdays dan weekend. Distribusi input ditentukan menggunakan Input Analyzer melalui uji Chi-Square dan Kolmogorov-Smirnov, sedangkan model diverifikasi dan divalidasi menggunakan 30 replikasi dengan durasi simulasi 3.600 detik per replikasi. Hasil menunjukkan bahwa bottleneck utama berada pada stasiun pelayan meja. Pada kondisi eksisting, waktu tunggu rata-rata mencapai 8,84 menit dengan panjang antrean 6,04 kelompok pada weekdays dan meningkat menjadi 14,96 menit dengan panjang antrean 12,36 kelompok pada weekend. Eksperimen menunjukkan bahwa konfigurasi optimal bersifat adaptif. Pada weekdays, Skenario Usulan 3 dengan 6 pelayan tetap dan 1 pelayan part-time menghasilkan total biaya minimum Rp144.404/jam atau penghematan 50,17% dibandingkan kondisi eksisting. Pada weekend, Skenario Usulan 4 dengan 6 pelayan tetap dan 2 pelayan part-time menghasilkan total biaya minimum Rp333.512/jam atau penghematan 47,41%, sekaligus menurunkan waktu tunggu menjadi 4,86 menit. Temuan menunjukkan bahwa integrasi model antrean, simulasi Arena, dan analisis ekonomi teknik dapat menghasilkan rekomendasi kapasitas pelayanan yang lebih kontekstual dan efisien bagi UMKM kuliner.
Copyrights © 2026