Bangunan cagar budaya memiliki nilai sejarah, arsitektur, budaya, identitas, dan memori kolektif, tetapi perubahan fungsi, tekanan pembangunan, dan gentrifikasi dapat mengancam keberlanjutannya apabila pelestarian hanya berorientasi fisik. Adaptive reuse menawarkan pemanfaatan kembali bangunan bersejarah melalui penyesuaian fungsi dengan tetap mempertahankan nilai warisan budaya. Namun, indikator keberhasilannya masih tersebar dalam berbagai perspektif, sehingga diperlukan kerangka yang lebih terintegrasi. Penelitian ini bertujuan merumuskan indikator adaptive reuse berbasis ekonomi hijau untuk mengevaluasi keberlanjutan bangunan cagar budaya dalam konteks kawasan cagar budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur naratif dan sintesis konseptual. Literatur terkait adaptive reuse, heritage, keberlanjutan, ekonomi hijau dan sirkular, serta aspek sosial, ekonomi, lingkungan, partisipasi, dan tata kelola diidentifikasi, dibandingkan, dan disintesiskan melalui proses adopsi, sintesis, modifikasi, dan kontekstualisasi. Hasil penelitian menghasilkan 20 indikator yang mencakup aspek heritage dan keaslian, fungsi dan adaptabilitas, lingkungan dan sumber daya, sirkularitas, ekonomi lokal, sosial budaya, partisipasi masyarakat, tata kelola, dan regenerasi kawasan. Kerangka ini mengintegrasikan pelestarian heritage dengan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan serta menjadi dasar evaluasi dan validasi empiris praktik adaptive reuse dalam mendukung keberlanjutan kawasan cagar budaya.
Copyrights © 2026