Perilaku memilih-milih makanan (picky eater) dan Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada anak usia dua tahun di bawah pengaruh fase perkembangan Terrible Twos dan gejala neofobia makanan menjadi salah satu pemicu utama defisit gizi kronis penyebab stunting. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menilai efektivitas program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) dalam memodifikasi menu pangan lokal serta mengubah pola pengasuhan balita di Desa Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini menggunakan desain deskriptif kualitatif melalui pendekatan studi observasional partisipatif. Subjek pengabdian melibatkan 50 peserta ibu baduta yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi partisipatif saat sesi edukasi interaktif dan demonstrasi masak (live cooking), serta diperdalam lewat wawancara semi-terstruktur bersama 10 informan perwakilan. Analisis data diolah menggunakan metode analisis tematik deskriptif melalui reduksi data dan matriks klasterisasi respons. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat akseptabilitas menu modifikasi berbasis komoditas lokal (Nugget Ayam, Bola-Bola Tahu, dan Nasi Kemul Telur) bernilai sangat tinggi karena memiliki karakteristik ramah sensoris anak, praktis, dan ekonomis. Program DASHAT berhasil mengintegrasikan sains kuliner dengan manajemen psikologi anak untuk mereduksi resistensi makan balita tanpa paksaan. Pascakegiatan, terjadi evolusi pola pengasuhan yang ditandai dengan adopsi aturan makan (feeding rules) yang disiplin serta komitmen keberlanjutan mandiri untuk mengolah makanan padat gizi berbasis potensi lokal. Kesimpulannya, sinergi edukasi gizi dan kreativitas kuliner lokal sangat efektif mengatasi hambatan perilaku makan balita demi mewujudkan generasi bebas stunting.
Copyrights © 2026