ABSTRAKTransformasi digital pada usaha mikro sering terhenti bukan karena teknologi tidak tersedia, melainkan karena adopsinya tidak terhubung dengan rutinitas usaha yang paling mendesak. Kegiatan pemberdayaan ini menguji model pendampingan digital dua jalur yang menggabungkan digitalisasi transaksi melalui QRIS dan komunikasi pasar melalui cerita produk autentik. Program melibatkan lima usaha mikro di Desa Cikedokan, Garut. Pendekatan pendampingan partisipatif berbasis kebutuhan dilakukan melalui diagnosis lapangan, pencocokan intervensi, praktik langsung, produksi konten, dan verifikasi luaran. Empat pelaku usaha yang sebelumnya dominan bertransaksi tunai didampingi hingga memiliki dan menampilkan QRIS, sedangkan satu produsen makanan tradisional memperoleh video promosi yang mendokumentasikan proses produksi. Seluruh luaran digital yang ditargetkan tercapai (4/4 QRIS dan 1/1 video promosi). Dampak langsung terlihat pada kesiapan digital di dua titik sentuh pelanggan, yaitu pembayaran dan promosi. Model ini berbiaya rendah dan berpotensi direplikasi, meskipun dampak penjualan masih memerlukan evaluasi longitudinal.
Copyrights © 2026