Jurnal Perempuan
Vol. 31 No. 1 (2026): Merebut Otoritas: Keadilan Epistemik, Keberlanjutan Hidup, dan Politik Perempu

Merebut Otoritas: Keadilan Epistemik, Keberlanjutan Hidup, dan Politik Perempuan Adat

admin admin (Unknown)



Article Info

Publish Date
21 Jun 2026

Abstract

Catatan pengantar Jurnal Perempuan ini menyoroti realitas perempuan adat yang kerap terjebak dalam posisi paradoksal di tengah krisis iklim dan masifnya pembangunan ekstraktif. Meskipun berperan vital sebagai penjaga keberlanjutan komunitas, ekologi, dan sistem pangan, mereka sering kali disingkirkan dari proses pengambilan keputusan serta hanya diperlakukan sebagai objek kebijakan atau perlindungan. Melalui delapan artikel yang dimuat, edisi ini berupaya membongkar narasi tersebut dengan menegaskan bahwa perempuan adat adalah subjek politik utuh yang memiliki otoritas atas kehidupan dan komunitasnya. Lebih lanjut, catatan ini menekankan pentingnya tuntutan keadilan epistemik bagi perempuan adat. Selama ini, pengetahuan mereka terkait pengelolaan alam, ritual, dan pangan sering diremehkan jika dibandingkan dengan pengetahuan akademis atau negara. Padahal, pengakuan terhadap sistem pengetahuan ini sangat mutlak diperlukan karena menawarkan fondasi alternatif bagi keberlanjutan sosial dan ekologis di masa depan. Berbagai elemen seperti dapur ritual, wilayah pesisir, hingga hutan adat bukanlah sekadar ruang fisik, melainkan ruang epistemik tempat perempuan adat memproduksi dan mewariskan pengetahuan demi menjaga ketahanan komunitas. Oleh karena itu, pengakuan hak masyarakat adat di ranah hukum nasional—seperti dalam RUU Masyarakat Adat—harus dikritisi menggunakan perspektif feminis. Hal ini bertujuan agar pengakuan tersebut tidak mengabaikan posisi perempuan adat sebagai subjek hukum dan tidak malah melanggengkan kekuasaan patriarki di dalam komunitas adat itu sendiri. Dalam menghadapi represi negara dan perampasan ruang hidup, catatan ini juga menyoroti bentuk perlawanan keseharian yang dilakukan oleh perempuan adat. Mereka membuktikan bahwa perlawanan tidak selalu harus berwujud demonstrasi atau konfrontasi terbuka, melainkan bisa dijalankan melalui upaya merawat keluarga, mempraktikkan ritual spiritual, dan menjaga solidaritas sosial. Secara keseluruhan, redaksi mengajak pembaca untuk menyadari bahwa perjuangan perempuan adat pada hakikatnya adalah perjuangan untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri. Mendengarkan suara sekaligus mengakui otoritas mereka menjadi kunci utama untuk menciptakan masa depan bumi yang adil, setara, dan berkelanjutan.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

IFJ

Publisher

Subject

Description

The journal encourages practical, theoretically sound, and (when relevant) empirically rigorous manuscripts that address real-world implications of the gender gap in Indonesiancontexts. Topics related to feminism can include (but are not limited to): sexuality, LGBT questions, trafficking, ecology, ...