Banjir berulang setinggi 100–150 cm di wilayah Joglo, Jakarta Barat, dipicu oleh alih fungsi lahan masif dan penurunan kinerja drainase perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kondisi fisik drainase serta intensitas tata guna lahan terhadap ketahanan kawasan permukiman menggunakan kerangka Baseline Resilience Indicators for Communities (BRIC) yang komprehensif. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif melalui observasi lapangan langsung terstruktur pada 25 titik sampel utama dan analisis spasial Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan risiko banjir tinggi secara konsisten memiliki saluran drainase mikro dengan tingkat sedimentasi buruk, penumpukan sampah domestik, dan ketiadaan area resapan alami akibat dominasi permukaan kedap air yang masif. Akibatnya, indeks resiliensi agregat kawasan Joglo berada pada kategori sedang (nilai 0,58) karena masyarakat masih bergantung pada tindakan adaptasi struktural mandiri seperti peninggian lantai rumah tanpa dukungan sistem kesiapsiagaan darurat kawasan. Penelitian menyimpulkan pentingnya transisi terencana menuju Solusi Berbasis Alam dan manajemen informasi bencana digital untuk menjamin ketangguhan sosial-ekonomi komunitas secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026