Meningkatnya volume importasi kontainer dari China ke Indonesia menyebabkan proses logistik menjadi semakin kompleks sehingga berpotensi meningkatkan lead time, biaya operasional, serta aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (Non-Value Added activities). PT ACS menerapkan dua skema importasi, yaitu BC 1.6 Pusat Logistik Berikat (PLB) dan BC 2.0, yang perlu dievaluasi untuk menentukan alternatif yang paling efisien. Penelitian ini bertujuan menganalisis efisiensi proses logistik serta mengestimasi biaya operasional menggunakan pendekatan Lean Logistics. Metode penelitian mengintegrasikan Value Stream Mapping (VSM) untuk memetakan aliran proses dan mengidentifikasi pemborosan, Process Cycle Efficiency (PCE) untuk mengukur tingkat efisiensi proses, Activity-Based Costing (ABC) untuk menghitung biaya aktivitas, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan skema importasi terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema BC 2.0 memiliki Lead time lebih singkat, biaya operasional lebih rendah, dan tingkat efisiensi proses yang lebih tinggi dibandingkan BC 1.6 PLB. Rancangan Future State Value Stream Mapping mampu mengurangi waktu tunggu, menekan pemborosan, serta meningkatkan kinerja sistem logistik perusahaan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi bagi perusahaan dalam meningkatkan efisiensi proses importasi dan mendukung pengambilan keputusan pemilihan skema importasi yang optimal.Kata Kunci: Lean Logistics; Value Stream Mapping; Process Cycle Efficiency; Activity-Based Costing; Analytical Hierarchy Process.
Copyrights © 2026