Krisis lingkungan kontemporer tidak hanya merupakan persoalan ekologis, teknologis, ekonomi, dan kebijakan publik, tetapi juga merupakan krisis cara manusia memahami dirinya, alam, dan realitas. Perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, deforestasi, pencemaran, degradasi tanah, dan tekanan terhadap sumber daya menunjukkan bahwa persoalan lingkungan berhubungan dengan pola produksi, konsumsi, serta pandangan dunia yang menempatkan alam sebagai objek eksternal. Artikel ini bertujuan merekonstruksi secara filosofis relasi manusia, alam, dan realitas melalui perspektif Advaita Vedānta serta merumuskan relevansinya bagi pengembangan etika ekologis Hindu kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif berupa studi kepustakaan dengan pendekatan hermeneutika filosofis dan analisis kritis terhadap literatur mengenai Advaita Vedānta, Hindu ecology, eco-theology, agama dan perilaku lingkungan, serta kearifan ekologis Bali. Hasil kajian menunjukkan bahwa non-dualitas, hubungan Ātman–Brahman, kritik terhadap avidyā, serta orientasi dharma dapat menjadi sumber konseptual untuk mendekonstruksi antroposentrisme yang eksploitatif. Namun, Advaita Vedānta tidak dapat begitu saja diposisikan sebagai filsafat lingkungan. Konsep māyā dan mithyā memerlukan pembacaan hati-hati agar status non-absolut dunia empiris tidak disalahartikan sebagai ketiadaan nilai moral. Rekonstruksi yang ditawarkan terdiri atas tiga lapis yang saling berhubungan, yaitu ontologi non-dual, epistemologi transformasi kesadaran ekologis, dan etika dharma yang diwujudkan dalam non-eksploitasi, tanggung jawab, pengendalian konsumsi, dan keberlanjutan. Dalam konteks Indonesia, kerangka tersebut dapat berdialog dengan Tri Hita Karana tanpa menyamakan kedua tradisi. Artikel ini menegaskan bahwa kontribusi utama Advaita Vedānta terhadap ekologi bukan sekadar memberikan daftar larangan terhadap perusakan alam, melainkan mengubah struktur kesadaran yang memandang manusia sebagai pusat dan alam sebagai objek.
Copyrights © 2026