Acne vulgaris merupakan salah satu penyakit kulit yang paling umum dijumpai. Salah satu faktor utama dalam patogenesis acne vulgaris adalah kolonisasi berlebih Cutibacterium acnes. Penggunaan antibiotik jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi, sehingga diperlukan alternatif terapi yang mampu menghambat pertumbuhan C. acnes. Daun sirih hijau (Piper betle L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun sirih hijau terhadap C. acnes. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan desain post-test only control group. Ekstrak daun sirih hijau diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70% dan dibuat dalam empat konsentrasi, yaitu 50%, 75%, 90%, dan 100%. Klindamisin 1,2% digunakan sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif. Uji antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi sumuran pada media Mueller–Hinton Agar dengan lima kali pengulangan. Rerata diameter zona hambat pada konsentrasi 50%, 75%, 90%, dan 100% berturut-turut adalah 9,63 ± 1,34 mm; 12,04 ± 0,52 mm; 12,73 ± 0,30 mm; dan 14,22 ± 0,92 mm, sedangkan klindamisin menghasilkan zona hambat sebesar 20,35 ± 1,81 mm dan akuades tidak menunjukkan zona hambat. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sirih hijau memiliki aktivitas antibakteri terhadap C. acnes, dengan daya hambat yang meningkat seiring peningkatan konsentrasi.
Copyrights © 2026