Kinerja termal baterai lithium-ion pada sepeda motor listrik dipengaruhi oleh kemampuan sistem pendingin untuk membuang panas dengan konsumsi energi yang tetap efisien. Artikel ini mengintegrasikan dua studi eksperimental yang saling melengkapi, yaitu evaluasi konfigurasi sistem pendingin dan optimasi diameter fan. Pengujian dilakukan pada baterai lithium-ion 72 V dengan kondisi pemanasan kendaraan pada 60 km/jam, beban 64 kg, temperatur awal 38°C, dan target pendinginan 35°C. Seri pertama membandingkan tanpa pendingin, fan-heatsink, dan fan-heatsink-Peltier. Seri kedua membandingkan fan berdiameter 60, 90, dan 120 mm. Temperatur dipantau menggunakan ESP32, sensor BMP280, dan Blynk Cloud, sedangkan distribusi temperatur dianalisis menggunakan simulasi termal ANSYS. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi fan-heatsink-Peltier menghasilkan waktu pendinginan tercepat, yaitu 18,67 menit, tetapi memerlukan energi rata-rata 11,05 Wh. Fan-heatsink membutuhkan 44 menit dengan energi 2,64 Wh. Pada optimasi fan, diameter 120 mm memberikan waktu pendinginan 26 menit dan konsumsi energi 1,53 Wh, lebih baik daripada fan 90 mm (34,67 menit; 2,07 Wh) dan 60 mm (58,67 menit; 2,34 Wh). Simulasi termal pada kedua studi menunjukkan bahwa konfigurasi dengan perpindahan panas lebih intensif menghasilkan distribusi temperatur yang lebih merata. Integrasi hasil menunjukkan adanya trade-off antara laju pendinginan dan kebutuhan energi: pendinginan termoelektrik unggul untuk penurunan temperatur cepat, sedangkan forced-air cooling dengan fan berdiameter lebih besar menawarkan efisiensi energi yang lebih baik.
Copyrights © 2026