Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi dengan beban tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan risiko komplikasi kegawatdaruratan seperti hemoptisis masif, pneumotoraks, dan gagal napas yang dapat mengancam nyawa. Karena sebagian besar pengobatan TB dijalani di rumah, kapasitas keluarga dalam menjalankan fungsi perawatan kesehatan diduga berhubungan dengan tingkat pengetahuan keluarga tentang tanda kegawatdaruratan TB, namun bukti empiris mengenai hubungan ini masih terbatas, sehingga penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara fungsi perawatan kesehatan keluarga dengan tingkat pengetahuan keluarga tentang deteksi dini kegawatdaruratan pada pasien TB paru. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional pada 27 keluarga pasien TB paru di wilayah kerja Puskesmas Ikur Koto, Kota Padang, dipilih dari total populasi 30 keluarga melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner fungsi perawatan kesehatan keluarga dan kuesioner pengetahuan tentang tanda kegawatdaruratan TB, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki fungsi perawatan kesehatan keluarga kategori cukup (48,1%) dan tingkat pengetahuan kategori cukup (44,4%), dengan hubungan positif bermakna antara fungsi perawatan kesehatan keluarga dan tingkat pengetahuan keluarga tentang tanda kegawatdaruratan TB (rho = 0,54; p = 0,003). Semakin baik fungsi perawatan kesehatan keluarga, semakin baik pula tingkat pengetahuan keluarga tentang tanda kegawatdaruratan TB, sehingga penguatan fungsi perawatan kesehatan keluarga secara menyeluruh perlu menjadi strategi prioritas dalam program edukasi TB berbasis keluarga.Kata kunci: Fungsi perawatan kesehatan keluarga; pengetahuan; kegawatdaruratan; tuberkulosis paru; keperawatan keluarga
Copyrights © 2025