Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara informasi diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi, sekaligus meningkatkan risiko misinformasi, konten yang dimanipulasi, dan informasi hasil AI yang tidak dapat diandalkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh literasi digital, literasi kecerdasan buatan, dan berpikir kritis terhadap kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi di era kecerdasan buatan di Indonesia. Pendekatan kuantitatif eksplanatori digunakan dengan melibatkan 150 responden yang dipilih melalui teknik *purposive sampling*. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dengan skala Likert lima poin dan dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 25. Analisis yang dilakukan meliputi uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik, regresi linear berganda, uji-t, uji-F, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan menyaring informasi, sementara literasi kecerdasan buatan juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan. Berpikir kritis menunjukkan pengaruh signifikan yang paling kuat terhadap kemampuan menyaring informasi. Secara simultan, ketiga variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi, dengan menjelaskan 58,1% varians data. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguatan ketahanan informasi masyarakat di era AI memerlukan kombinasi terpadu antara kompetensi digital, pemahaman khusus mengenai AI, dan penalaran kritis. Berpikir kritis muncul sebagai faktor yang paling berpengaruh, yang menegaskan pentingnya evaluasi berbasis bukti saat menghadapi informasi digital maupun informasi yang dihasilkan oleh AI.
Copyrights © 2026