Perusahaan manufaktur menghadapi risiko financial distress akibat tekanan yang berasal dari faktor keuangan maupun nonkeuangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara statistik pengungkapan Environmental, Social, and Governance (ESG), kemampuan likuiditas, struktur utang, dan kapasitas profitabilitas dalam memengaruhi financial distress pada perusahaan sektor basic materials dan industrials yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama 2022-2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang bersumber dari laporan tahunan dan laporan keberlanjutan perusahaan. Melalui teknik purposive sampling, diperoleh 82 perusahaan dengan 246 observasi firm-year. Pengujian dilakukan menggunakan regresi data panel dengan pendekatan Fixed Effect Model melalui EViews 12. Pengukuran financial distress dilakukan melalui transformasi negatif Altman Z-Score, sedangkan likuiditas, leverage, dan profitabilitas secara berturut-turut direpresentasikan oleh Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return on Assets (ROA). Hasil pengujian mengindikasikan bahwa likuiditas dan profitabilitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap financial distress, sementara pengungkapan ESG dan leverage tidak berpengaruh signifikan. Secara simultan, model penelitian signifikan dengan nilai Adjusted R-squared sebesar 87,35%. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan menanggung kewajiban jangka pendek dan menciptakan laba merupakan faktor kunci dalam memitigasi risiko financial distress. Sementara itu, pengungkapan ESG belum menunjukkan keterkaitan langsung dengan kondisi kesulitan keuangan perusahaan. Penelitian ini memberikan bukti empiris mengenai peran faktor keuangan dan nonkeuangan dalam menjelaskan financial distress di sektor manufaktur yang bercirikan karakteristik padat modal.
Copyrights © 2026