Majalah Kesehatan Indonesia
Vol. 7 No. 4 (2026)

Simple Clinical and Behavioral Markers for Early Identification of Development Risk in Preschool Children in Primary Healthcare Settings

Juni Sofiana (Universitas Muhammadiyah Gombong)
Wulan Rahmadhani (Universitas Muhammadiyah Gombong)
Eka Novyriana (Universitas Muhammadiyah Gombong)
Lutfia Uli Na'mah (Universitas Muhammadiyah Gombong)



Article Info

Publish Date
02 Oct 2026

Abstract

Background: The preschool period is a critical window for child growth and development, yet in Indonesia early detection of developmental disturbance in primary care remains suboptimal and tends to focus narrowly on physical growth parameters, while behavioral dimensions of development receive comparatively little attention. Purpose: This study aimed to examine simple clinical and behavioral indicators as combined markers for the early identification of developmental risk among preschool children in a primary healthcare setting. Method: An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted among 110 preschool children aged 3–5 years, recruited through purposive sampling from the catchment area of a primary health care facility. Developmental risk was assessed using the Pre-Screening Developmental Questionnaire (KPSP). Clinical indicators (weight-for-age, height-for-age, mid-upper arm circumference) and behavioral indicators (dietary pattern, physical activity, parental stimulation, and social interaction) were measured and analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression. Result: Of the 110 children studied, 42 (38.2%) were classified as at risk of developmental disturbance. Bivariate analysis showed that all three clinical indicators and dietary pattern were significantly associated with developmental risk (p<0.001), whereas physical activity, parental stimulation, and social interaction were not (p>0.05). Multivariate analysis confirmed four independent predictors: height-for-age (AOR=4.15), weight-for-age (AOR=3.98), dietary pattern (AOR=3.94), and mid-upper arm circumference (AOR=3.90), together explaining 25% of the variance in developmental risk (Nagelkerke R²=0.25). Conclusion: Simple anthropometric measurement combined with a basic dietary-pattern assessment can meaningfully identify preschool children at higher risk of developmental disturbance, supporting the integration of nutritional and developmental screening into a single, low-cost framework for routine use in Posyandu and Puskesmas. Abstrak: Latar Belakang Masa prasekolah merupakan periode kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, di Indonesia, deteksi dini gangguan perkembangan di pelayanan kesehatan primer masih belum optimal dan cenderung berfokus pada parameter pertumbuhan fisik, sementara dimensi perilaku dalam perkembangan anak relatif kurang mendapatkan perhatian. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator klinis dan perilaku sederhana sebagai penanda gabungan untuk mengidentifikasi secara dini risiko gangguan perkembangan pada anak usia prasekolah di pelayanan kesehatan primer. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 110 anak usia prasekolah berusia 3–5 tahun yang direkrut menggunakan teknik purposive sampling dari wilayah kerja suatu fasilitas pelayanan kesehatan primer. Risiko gangguan perkembangan dinilai menggunakan Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP). Indikator klinis yang meliputi berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, dan lingkar lengan atas, serta indikator perilaku yang meliputi pola makan, aktivitas fisik, stimulasi orang tua, dan interaksi sosial diukur dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil: Dari 110 anak yang diteliti, sebanyak 42 anak (38,2%) diklasifikasikan berisiko mengalami gangguan perkembangan. Analisis bivariat menunjukkan bahwa ketiga indikator klinis dan pola makan memiliki hubungan yang signifikan dengan risiko gangguan perkembangan (p<0,001), sedangkan aktivitas fisik, stimulasi orang tua, dan interaksi sosial tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Analisis multivariat mengonfirmasi empat prediktor independen, yaitu tinggi badan menurut umur (AOR=4,15), berat badan menurut umur (AOR=3,98), pola makan (AOR=3,94), dan lingkar lengan atas (AOR=3,90). Keempat variabel tersebut secara bersama-sama menjelaskan 25% variasi risiko gangguan perkembangan (Nagelkerke R²=0,25). Kesimpulan: Pengukuran antropometri sederhana yang dikombinasikan dengan penilaian dasar pola makan dapat secara bermakna mengidentifikasi anak usia prasekolah yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan perkembangan. Temuan ini mendukung integrasi skrining status gizi dan perkembangan ke dalam satu kerangka yang sederhana dan berbiaya rendah untuk digunakan secara rutin di Posyandu dan Puskesmas.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

makein

Publisher

Subject

Humanities Health Professions Medicine & Pharmacology Nursing Public Health

Description

Majalah Kesehatan Indonesia (MAKEIN) with registered ISSN 2745-6498 (Print) and ISSN 2745-8008 (online), is an interdisciplinary journal that publishes material on all aspects of public health science. This MAKEIN provides the ideal platform for the discussion of more sophisticated public health ...