Keterbatasan lahan yang semakin berkurang serta peningkatan biaya produksi menuntut inovasi agar pendapatan dari pertanian dapat mencukupi kebutuhan hidup yang terus bertambah. Upaya yang dilakukan guna mencapai produktivitas, salah satunya yaitu dengan sistem tumpangsari. Tumpangsari antara jagung manis dan kedelai dianggap sebagai salah satu sistem tumpangsari yang efektif dan banyak diminati. Pengembangan teknik budidaya yang memperhatikan integrasi antara waktu tanam, dan jenis tanaman sela menjadi penting untuk memaksimalkan pertumbuhan dan hasil tanaman dalam sistem tumpangsari. Maka, diperlukan untuk melaksanakan penelitian ini guna melihat respon pertumbuhan serta hasil jagung manis pada perbedaan waktu tanam dan varietas kedelai dalam sistem tumpangsari. Pelaksanaan studi ini di lahan Dusun Kasin, Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, dari Januari hingga April 2025. Metode yang dipakai berupa Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan sehingga menghasilkan 28 plot perlakuan. Variabel yang diamati meliputi pertumbuhan jagung manis (tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang dan waktu berbunga jantan), hasil panen jagung manis (panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol dengan kelobot, bobot tongkol tanpa kelobot, tingkat kemanisan, dan jumlah baris biji), hasil panen kedelai (jumlah polong, bobot polong, bobot kering biji) dan R/C Ratio. Data di analisis melalui penggunaan ANOVA 5% dan uji lanjut BNT 5%. Temuan penelitian mendapati tumpangsari jagung manis dengan kedelai tidak menurunkan hasil jagung manis dibandingkan monokultur. Hasil terbaik terdapat pada tumpangsari dengan kedelai varietas Argomulyo yang ditanam 7 HST dengan hasil jagung manis 12,57 t ha-1 dan kedelai 1,19 t ha-1. Varietas Denasa 1 yang ditanam 14 HST menghasilkan kedelai lebih rendah yaitu 0,79 t ha-1 dan R/C Ratio tumpangsari jagung manis + kedelai 7 HST mampu meningkatkan efisiensi sumber daya lahan.
Copyrights © 2026