Abstrak Ketimpangan distribusi fasilitas kesehatan di wilayah metropolitan berpotensi menghambat akses masyarakat terhadap layanan rujukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola persebaran 193 rumah sakit di daratan Provinsi DKI Jakarta, mengidentifikasi ketidaksesuaian spasial antara distribusi fasilitas dan kepadatan penduduk, serta mengevaluasi jangkauan layanan menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian menggunakan desain deskriptif eksploratif berbasis analisis spasial dengan data sekunder dari Kementerian Kesehatan (Februari 2026) dan BPS Provinsi DKI Jakarta (2026). Analisis dilakukan melalui pemetaan titik, Average Nearest Neighbor (ANN), buffering radius 3 km, overlay kepadatan penduduk, dan perhitungan rasio RS per 100.000 penduduk. Hasil menunjukkan pola persebaran rumah sakit bersifat mengelompok (R=0,78; Z=-5,84), terkonsentrasi di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Rasio RS per 100.000 penduduk tertinggi di Jakarta Pusat (3,58) dan terendah di Jakarta Barat (1,08). Wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Jakarta Barat dan Jakarta Timur memiliki keterbatasan akses terhadap rumah sakit dengan kapasitas layanan rujukan memadai. Pendekatan SIG terbukti efektif sebagai dasar perencanaan fasilitas kesehatan berbasis bukti di wilayah metropolitan. Kata Kunci: sistem informasi geografis, rumah sakit, analisis spasial, kepadatan penduduk, DKI Jakarta Abstract Unequal distribution of health facilities in metropolitan areas limits access to referral services, particularly in densely populated peripheral zones. This study analyzes the spatial distribution of 193 hospitals in mainland DKI Jakarta, identifies mismatches between facility location and population characteristics, and evaluates service coverage using Geographic Information Systems (GIS). A descriptive exploratory design was applied using secondary data from the Ministry of Health (February 2026) and BPS DKI Jakarta (2026). Analysis included point mapping, Average Nearest Neighbor (ANN), 3 km buffering, population density overlay, and hospital-to-population ratio calculation per administrative area. Results show a clustered distribution pattern (R=0.78; Z=−5.84), concentrated in Central and South Jakarta. The hospital-to-population ratio ranged from 3.58 per 100,000 in Central Jakarta to 1.08 in West Jakarta. High-density areas such as West and East Jakarta have limited access to hospitals with adequate referral capacity. GIS proved effective as an evidence-based tool for health facility planning in metropolitan settings. Keywords: geographic information system, hospital, spatial analysis, population density, DKI Jakarta
Copyrights © 2026