Brain drain adalah perpindahan tenaga kerja terdidik, dan hal ini merupakan ancaman serius bagi pembangunan Nusa Tenggara Timur (NTT). Studi ini menggunakan metode tinjauan pustaka sistematis untuk meneliti dampak brain drain terhadap pertumbuhan ekonomi regional dan kapasitas pembangunan manusia di NTT. Studi ini mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong dan menarik migrasi, serta mengembangkan model yang relevan untuk mempertahankan sumber daya manusia dari perspektif administrasi negara, menggunakan kerangka teori Push-Pull, Modal Manusia, dan Geografi Ekonomi Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NTT mengalami paradoks pembangunan: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 65,26 menjadi 69,14 poin antara tahun 2021 dan 2025, dan pertumbuhan PDB regional mencapai 5,14% pada tahun 2025. Namun, angka tersebut masih tertinggal dari rata-rata nasional. Sekitar 120.000 orang meninggalkan NTT setiap tahunnya, didorong oleh perekonomian yang masih sangat bergantung pada sektor informal (75,15%) dan upah yang rendah. Fenomena brain drain (migrasi tenaga kerja terdidik) terjadi melalui jalur seperti modal manusia, kapasitas fiskal, inovasi, dan layanan publik, menciptakan efek bumerang kumulatif (Myrdal, 1957). Studi ini menyarankan penguatan retensi sumber daya manusia terdidik dan pembangunan ekosistem ekonomi berbasis pengetahuan melalui model Triple Helix.
Copyrights © 2026