PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Vol. 6 No. 4 (2026)

PENGALAMAN REMAJA PUTUS SEKOLAH DALAM MENGIKUTI KONSELING DI DAERAH PARIT PEKIR BANGKA BELITUNG

Christin Christin (Universitas PGRI Palembang)
Erfan Ramadhani (Universitas PGRI Palembang)
Ramtia Darma Putri (Universitas PGRI Palembang)



Article Info

Publish Date
06 Oct 2026

Abstract

ABSTRACT The phenomenon of school dropouts among adolescents in Parit Pekir presents a psychosocial complexity that demands a profound understanding of their lived experiences when accessing psychological support. This study aims to delineate the experiences and meanings attributed to guidance and counseling services by school dropouts at SMK Yapensu Sungailiat through the lens of Alfred Schutz’s social phenomenology. Data collection relied on in-depth interviews, observation, and documentary study involving six adolescent school dropouts and two guidance and counseling teachers as supporting informants. Data analysis was executed cyclically, encompassing data condensation, thematic presentation, and conclusion drawing. The findings reveal a significant shift in meaning; the informants' initial perception shadowed by fear and the stigma of the counseling room as a corrective-punitive space transformed into positive acceptance. Counselor interactions characterized by empathy, openness, and a non-judgmental stance cultivated a safe space that alleviated emotional turmoil while fostering the informants' self-efficacy. This study concludes that counseling for out-of-school adolescents plays a pivotal role as an intersubjective vehicle to reconstruct self-understanding and redesign future orientations. Community-based psychosocial support emerges as a crucial necessity to ensure the sustainable emotional recovery of marginalized adolescents. ABSTRAK Fenomena putus sekolah pada remaja di Parit Pekir menghadirkan kompleksitas psikososial yang menuntut pemahaman mendalam mengenai pengalaman mereka saat mengakses pendampingan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan pengalaman dan pemaknaan layanan bimbingan konseling oleh remaja putus sekolah di SMK Yapensu Sungailiat melalui lensa fenomenologi sosial Alfred Schutz. Pengumpulan data mengandalkan wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap enam remaja putus sekolah serta dua guru bimbingan konseling sebagai informan pendukung. Analisis data dijalankan secara siklis meliputi kondensasi data, penyajian tematik, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengungkapkan pergeseran pemaknaan yang signifikan; persepsi awal informan yang dibayangi rasa takut dan stigma ruang bimbingan sebagai arena korektif-punitif bertransformasi menjadi penerimaan positif. Interaksi konselor yang empati, terbuka, dan tidak menghakimi (non-judgmental) menciptakan ruang aman (safe space) yang meredakan gejolak emosional sekaligus membangkitkan efikasi diri (self-efficacy) informan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konseling bagi remaja di luar sistem sekolah berperan penting sebagai wahana intersubjektif untuk merekonstruksi pemahaman diri dan merancang kembali orientasi masa depan. Pendampingan psikososial berbasis komunitas (community-based counseling) menjadi kebutuhan krusial guna menjamin keberlanjutan pemulihan emosional remaja marjinal.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

paedagogy

Publisher

Subject

Languange, Linguistic, Communication & Media Social Sciences Other

Description

PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and ...