ABSTRACT Cyber interaction dynamics within the K-Pop fandom community in Sidoarjo Regency frequently escalate difference of opinion, potentially leading to offensive verbal behavior on social media. This study was designed to analyze the correlation between verbal aggression and psychological well-being among K-Pop fans in Sidoarjo Regency. Employing a quantitative approach with a correlational design, initial data were collected from 294 participants aged 15–35 years using purposive sampling, yielding 246 clean data (n = 246) following a rigorous data screening process. Data collection relied on two Likert scales measuring verbal aggression indicators and psychological well-being dimensions, which were subsequently analyzed using simple linear regression at a significance threshold of alpha = 0.05. The findings confirmed a significant negative correlation between aggressive verbal behavior and psychological well-being levels (p < 0.001; Beta = -0.611). The coefficient of determination (R-square = 0.373) indicated that verbal aggression contributed 37.3% to the variance in fans' psychological well-being, while the remaining variance was influenced by factors outside the model. These findings highlight the importance of structuring the digital communication environment, where fanbase community managers and counseling practitioners need to promote media literacy education and emotional regulation to foster an inclusive and conducive fandom ecosystem. ABSTRAK Dinamika interaksi siber dalam komunitas fandom K-Pop di Kabupaten Sidoarjo kerap memicu eskalasi pertentangan pendapat yang berpotensi melahirkan tindakan tuturan menyerang di media sosial. Penelitian ini dirancang untuk menganalisis korelasi antara agresi verbal dan kesejahteraan psikologis pada penggemar K-Pop di Kabupaten Sidoarjo. Melalui pendekatan kuantitatif berdesain korelasional, data awal dijaring dari 294 partisipan berusia 15–35 tahun berbasis purposive sampling, hingga diperoleh 246 data bersih (n = 246) setelah melalui tahapan pembersihan respons (data screening). Pengumpulan data mengandalkan dua skala Likert yang mengukur indikator perundungan kata dan dimensi kesehatan mental, lalu dianalisis menggunakan regresi linear sederhana pada ambang signifikansi alpha = 0,05. Hasil pengujian membuktikan hadirnya korelasi negatif yang signifikan antara perilaku tuturan agresif dan tingkat kesejahteraan psikologis (p < 0,001; Beta = -0,611). Besaran koefisien determinasi (R-square = 0,373) menunjukkan bahwa ekspresi agresi verbal menyumbang 37,3% variasi pada penurunan kesehatan mental penggemar, sementara sisanya dipengaruhi faktor di luar model. Temuan ini menandai pentingnya penataan iklim komunikasi digital, di mana pengelola komunitas (fanbase) dan praktisi pendamping perlu mendorong edukasi literasi media serta regulasi emosi guna mewujudkan ekosistem fandom yang inklusif dan kondusif.
Copyrights © 2026