Konsumsi video pendek berbasis algoritma melalui YouTube Shorts membuat Generasi Alpha semakin terpapar konten animasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bertema *brain rot*. Namun, kajian komunikasi yang memosisikan anak sebagai khalayak aktif dalam memaknai konten tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman konsumsi, pemaknaan, serta faktor-faktor komunikatif yang mendorong Generasi Alpha terus menonton konten animasi AI bertema *brain rot*. Penelitian ini menggunakan Teori Resepsi Stuart Hall sebagai kerangka analisis utama, didukung oleh Teori Media Baru dan Teori Kultivasi secara terbatas. Penelitian menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan paradigma konstruktivisme. Informan dipilih secara purposif, terdiri atas lima anak berusia 13–15 tahun dan satu informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi nonpartisipatif, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model interaktif serta diuji melalui triangulasi sumber dan *member checking*. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi konten umumnya terjadi secara tidak disengaja, dengan intensitas menonton yang beragam. Berdasarkan model resepsi Stuart Hall, tiga informan berada pada posisi negosiasi, satu informan pada posisi dominan-hegemonik, dan satu informan pada posisi oposisional. Faktor komunikatif yang menarik perhatian informan meliputi keunikan cerita dan karakter, kualitas visual, durasi singkat, rekomendasi algoritma, serta dorongan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Generasi Alpha merupakan khalayak aktif yang tidak sekadar menerima pesan media, tetapi juga menafsirkan konten berdasarkan pengalaman, preferensi, dan kerangka berpikir masing-masing.
Copyrights © 2026