Car Free Day (CFD) Tulungagung yang ditata ulang sejak Juli 2024 menjadi ruang ekonomi informal yang turut mengalami perkembangan penggunaan pembayaran digital. Meskipun demikian, adopsi QRIS di kalangan pedagang kaki lima (PKL) belum merata. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi, sikap, dan keputusan PKL dalam menggunakan atau tidak menggunakan QRIS berdasarkan Technology Acceptance Model (TAM). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan enam informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas tiga pengguna dan tiga non pengguna QRIS. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi non-partisipan, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna cenderung mempersepsikan QRIS lebih bermanfaat dan mudah digunakan karena memiliki pengalaman langsung dan memperoleh pendampingan. Non pengguna umumnya mengetahui QRIS, tetapi belum memiliki pengalaman operasional yang cukup dan masih mempertahankan transaksi tunai karena keterbatasan pengalaman, pemahaman, dan pendampingan. Temuan menunjukkan bahwa pengalaman penggunaan dan pendampingan menjadi konteks penting dalam pembentukan persepsi serta keputusan adopsi QRIS pada PKL. Penelitian ini berkontribusi pada kajian penerimaan teknologi dalam konteks ekonomi informal dengan membandingkan proses pemaknaan PKL pengguna dan non pengguna QRIS.
Copyrights © 2026