Rekayasa genetik pangan merupakan salah satu perkembangan teknologi dalam bidang pertanian dan pangan yang memiliki berbagai manfaat, tetapi juga menimbulkan kontroversi di masyarakat. Genetic Engineering (rekayasa genetika) merupakan teknologi yang memungkinkan modifikasi materi genetik pada tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme untuk menghasilkan karakteristik tertentu sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Praktik perubahan sifat tanaman sebenarnya telah dilakukan manusia sejak dahulu melalui pemuliaan tanaman secara konvensional. Namun, perkembangan bioteknologi modern memungkinkan perubahan gen dilakukan secara lebih spesifik dan terarah. Saat ini, beberapa bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat berasal dari organisme hasil rekayasa genetika atau mengandung bahan yang telah mengalami modifikasi genetik. Teknologi tersebut berpotensi memberikan manfaat, seperti meningkatkan produktivitas pertanian, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, serta menghasilkan tanaman dengan kandungan gizi tertentu. Meskipun demikian, penerapannya tetap perlu memperhatikan berbagai kemungkinan risiko. Beberapa potensi risiko rekayasa genetik pangan antara lain perubahan kandungan atau kualitas gizi, potensi toksisitas, kemungkinan munculnya resistensi terhadap antibiotik, serta potensi alergenitas. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang terhadap kesehatan, termasuk kemungkinan efek karsinogenik, meskipun hal tersebut perlu dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Dari aspek lingkungan, risiko yang perlu diperhatikan meliputi pencemaran genetik, transfer gen ke tanaman liar, gangguan terhadap keanekaragaman hayati, dan kemungkinan munculnya organisme yang tidak diharapkan. Di samping aspek kesehatan dan lingkungan, rekayasa genetik pangan juga menimbulkan perdebatan terkait agama, budaya, etika, serta penerimaan masyarakat.
Copyrights © 2026